Pengangguran
Intelektual yang Merajalela
Negara Indonesia saat
ini tingkat pengangguran sangat banyak. Khususnya bagi yang mempunyai predikat
sarjana. Sangat disayangkan , jika kita sudah melakukan proses pedidikan sampai
tingkat sarjana menjadi pengangguran. Karena kita sudah bersusah payah untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan, khususnya orang tua kita yang sudah susah payah
mencari uang untuk sekolah kita. Tetapi ujungnya menjadi pengangguran.
Pengangguran itu terjadi
karena orang itu tidak ingin berusaha keras, bermalas-malasan, dan mudah putus
asa. Zaman sekarang memang mencari pekerjaan itu sangat susah. Tinggal kita
yang menjalaninya. Jika kita berkeinginan keras dengan cara berdo’a dan
berusaha pasti kita akan mejadi sukses. Meskipun itu tidak sekarang, pasti ada
gantinya yang lebih baik. Jadi intinya kita jangan mudah patah semangat.
Faktor yang lainnya kurangnya
lapangan pekerjaan. Terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dll.
Karena di kota-kota besar terdapat penduduk yang sangat padat. Banyak dari kota
terpencil atau dari desa yang transmigrasi ke kota besar. Maka dari itu
kota-kota besar menjadi padat penduduknya.
Memang hal ini merupakan
fenomena yang aneh tapi nyata. Jumlah sarjana yang menganggur di Indonesia terus
meningkat dari tahun ke tahun. Angka pengangguran terdidik bertambah besar lagi
jika digabungkandengan pengangguran lulusan diplomayang mencapai 486.400 orang.
Para pengangguran terdidik itu merupakan bagian dari pengangguran terbuka
secara nasional.
Pertambahan jumlah
pengangguran intelektual dicermati benar-benar. Sebab setiap tahunnya Indonesia
memproduksi sekitar 300.000 orang sarjana dari 2.900 perguruan tinggi yang ada.
Semakin besarnya angka pengangguran terdidik tentu saja berdampak buruk, yakni
terjadinya pemborosan dalam skala besar. Dampak buruk lainnya yang lumayan
serius adalah adanya kekhawatiran akan hilangnya penghargaan dan kepercayaan
masyarakat terhadap dunia pendidikan tinggi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar